Episode 3 – Fitrah dan Komputer
Kenali fitrah sebagai sistem bawaan manusia: pengakuan kepada Sang Pencipta, akal, moral, dan kehendak bebas, serta tantangannya bagi materialisme.
Assalamu’alaikum warahmatullah, saudara-saudara tercinta. Hari ini kita memulai dengan dasar dari segala dasar: membuktikan keberadaan Allah Azza wa Jalla, untuk membangun landasan bagi pembahasan selanjutnya.
Sebagai permulaan, saudara-saudaraku, apa yang menunjukkan kepada kita keberadaan Allah? Fitrah dan akal. Kita akan terlebih dahulu membahas bukti-bukti fitrah.
Apa itu fitrah?
Kita sering mendengar kata ini. Apa artinya, dan bagaimana fitrah menunjukkan keberadaan Allah Taala?
Fitrah adalah kemampuan dan dorongan yang ditanamkan dalam jiwa manusia, yang pengaruhnya tampak selama pertumbuhan serta interaksinya dengan lingkungan. Mulai dari meraih puting ibunya untuk menyusu, hingga ketertarikannya pada kebenaran dan akhlak yang baik.
Fitrah pada manusia dapat diibaratkan sistem operasi pada komputer. Sistem operasi ini memiliki komponen yang bekerja sama secara selaras untuk menghasilkan manusia yang sehat dan utuh.
Perhatikan firman Allah Taala, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” [At-Tin: 4] Bentuk yang sebaik-baiknya mencakup unsur-unsur fitrah yang diperlukan untuk memenuhi tujuan penciptaan manusia. Hal ini juga dapat dipahami dari firman Allah yang mengisahkan perkataan Musa alaihissalam, “Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.” [Taha: 50]
Di antara yang diberi-Nya petunjuk adalah manusia. Allah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik dan membimbingnya melalui fitrah.
Petunjuk-petunjuk fitrah
Melalui fitrah, Allah membimbing manusia untuk:
- Mengakui bahwa dirinya dan alam semesta memiliki Pencipta yang mengatur, merasakan kebutuhan kepada-Nya, serta berlindung kepada-Nya ketika menghadapi kesulitan.
- Allah juga membimbing manusia melalui fitrah yang membentuk prinsip-prinsip dasar akal, yang dengannya manusia memahami firman Sang Pencipta dan kewajiban yang dibebankan kepadanya.
- Allah membimbing manusia untuk bertanya tentang tujuan keberadaan dan nasibnya setelah mati, sehingga muncul dorongan mencari perintah Penciptanya dan mengamalkannya.
- Allah juga membimbing manusia kepada kecenderungan moral: cinta alami terhadap kebaikan, keadilan, dan kesalehan, serta kebencian terhadap kejahatan, kezaliman, dan kerusakan. Hal ini selaras dengan perintah syariat Sang Pencipta sehingga manusia cenderung kepadanya dan mencintainya.
- Allah membimbing manusia untuk merasakan kehendak bebas, sehingga ia memilih tindakannya dalam menaati atau mendurhakai Sang Pencipta. “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” [Al-Balad: 10]
- Allah membimbing manusia kepada naluri yang diperlukan agar dapat hidup dengan baik selama masa ujian di bumi ini, seperti naluri keibuan dan naluri mempertahankan hidup.
Definisi fitrah yang luas ini serupa dengan penjelasan Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa at-Tanwir ketika menafsirkan firman Allah, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” [At-Tin: 4] Jadi, fitrah merupakan sekumpulan unsur bawaan yang bekerja sama secara menakjubkan untuk menghasilkan manusia yang sehat dan bertindak demi suatu tujuan.
Hal-hal yang menutupi fitrah
Dalam perjalanan hidup manusia, fitrah dapat tertutup oleh berbagai hal. Manusia mungkin melawannya dan menutup telinga dari panggilannya, bahkan menekan serta menghapus jejaknya, hingga tidak lagi mendengar seruan yang mendalam itu.
Namun, semua ini tidak meniadakan kenyataan bahwa sejak awal fitrah memang ada dalam dirinya, sebelum perlawanan tersebut. Fitrah terus mendesaknya dari waktu ke waktu dan tertarik kepada hal yang menggalinya kembali serta membersihkan timbunan yang menutupinya.
Kesulitan ateisme menghadapi fitrah
Karena itu, fitrah menimbulkan kesulitan besar bagi para ateis. Bagi mereka, fitrah menunjukkan campur tangan dari luar oleh suatu Kekuatan yang berkehendak dan mengetahui, yang melampaui reaksi biokimia acak.
Kesulitan mereka menyerupai orang yang berkata kepada Anda, “Komputer ini terbentuk semata-mata secara kebetulan. Bagian-bagiannya tersusun dan selaras tanpa pembuat. Angin badai yang kacau sajalah yang merakitnya seperti ini.”
Kita menyalakan komputer itu, lalu menemukan sistem operasi yang lengkap dan selaras, serta program-program yang masing-masing memiliki tujuan. Bagaimana Anda menjelaskan keberadaan program-program ini, wahai ateis? Sekalipun kami menelan kebohongan menggelikan Anda tentang “perangkat keras komputer”, bagaimana Anda menjelaskan “perangkat lunak” di dalamnya?
Reaksi biokimia semata, mutasi acak, dan seleksi alam… Sekalipun kita mengesampingkan bahwa semuanya tidak dapat menciptakan manusia, lalu menerima klaim Anda bahwa semua itu menciptakan manusia dan memberinya kehidupan, dari mana proses-proses tanpa kesadaran ini memperoleh kemampuan menanamkan sekumpulan unsur yang selaras dan terarah dalam akal serta jiwa manusia? Bagaimana Anda menjelaskan terbentuknya kumpulan unsur yang sama itu dalam setiap jiwa baru yang lahir?
Sebagian ateis mengakui kesulitan ini, termasuk filsuf ateis Inggris Thomas Nagel dalam bukunya Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly False, yakni Pikiran dan Kosmos: Mengapa Pandangan Neo-Darwinis Materialis tentang Alam Hampir Pasti Keliru.
Buku tersebut membahas tiga persoalan utama dan menunjukkan ketidakmampuan materialisme Darwinis menjelaskannya: kesadaran, kemampuan mengetahui, dan nilai-nilai. Namun, penulisnya tetap ateis!
Cara para ateis menghadapi persoalan fitrah
Bagaimana kebanyakan ateis menghadapi persoalan ini? Mereka terombang-ambing antara menyangkal sifat bawaan unsur-unsur tersebut—yakni sebagian menyangkal bahwa semuanya ada pada manusia sejak lahir dan menganggapnya hasil pendidikan serta lingkungan sosial—dan mengakui keberadaannya sambil mencoba mencari penjelasan material.
Kedua kelompok terjebak dalam kekacauan, pertentangan, dan ketidakmasukakalan yang menakjubkan, sebagaimana akan kita lihat, insyaallah.
Kesimpulan dan pembahasan selanjutnya
Demikian penjelasan tentang definisi fitrah dan persoalan umum yang dihadapi para ateis dengannya. Pada episode-episode berikutnya, kita akan melihat kesulitan menyedihkan mereka menghadapi setiap unsur fitrah yang telah disebutkan. Setelah itu, Anda akan berkata dengan sepenuh hati, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami ke surga ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami.” [Al-A‘raf: 43]
Perlu saya sebutkan bahwa dalam episode-episode tentang bukti fitrah bagi keberadaan Allah ini, saya banyak mengambil manfaat dari buku Syumu‘ an-Nahar karya insinyur Abdullah al-Ujairi, semoga Allah menjaganya.
Episode berikutnya, insyaallah, membahas kecenderungan beragama. Ikutilah kami. Assalamu’alaikum warahmatullah.
Sumber: Situs resmi Dr. Eyad Qunaibi.