Desain Cerdas: Memahami Argumen Perancangan
Mengapa keteraturan dan kerumitan alam semesta serta makhluk hidup menunjukkan adanya perancang? Telusuri argumen desain cerdas dan peran kebetulan.
Perancangan dan kecerdasan
Saat ini, Anda sedang duduk di depan komputer dan membaca artikel di situs TheSigns.co . Anda tentu memahami bahwa situs ini ditulis oleh seseorang dengan tujuan tertentu. Tidak akan terlintas dalam pikiran Anda bahwa situs ini terbentuk “secara kebetulan” lalu muncul begitu saja di internet.
Demikian pula, ketika melihat komputer Anda, Anda tidak meragukan bahwa komputer itu dirancang oleh para insinyur dengan teknologi mutakhir. Hal ini tidak hanya berlaku pada komputer. Kita tahu bahwa beberapa batu bata yang ditumpuk di sana-sini telah diletakkan oleh seseorang menurut suatu rencana. Karena itu, di mana pun terdapat keteraturan, besar ataupun kecil, pasti ada yang membentuk dan memeliharanya.
Munculnya suatu struktur rumit secara tiba-tiba dalam bentuk yang lengkap menunjukkan bahwa struktur itu merupakan karya sosok yang cerdas. Contoh komputer tadi juga berlaku pada makhluk hidup. Bahkan, rancangan kehidupan terlalu rumit dan canggih untuk dibandingkan dengan komputer biasa. Sel, satuan dasar kehidupan, jauh lebih rumit daripada produk teknologi apa pun buatan manusia. H. Thorpe, seorang ilmuwan pendukung evolusi, mengakui bahwa “sel yang paling sederhana merupakan suatu ‘mekanisme’ yang lebih rumit daripada mesin apa pun yang pernah dibayangkan hingga kini, apalagi yang telah dibuat manusia”. W. R. Bird, The Origin of Species Revisited, Nashville: Thomas Nelson Co., 1991, hlm. 298–299.
Selain itu, organisme dengan kerumitan yang tidak dapat disederhanakan ini harus muncul sekaligus dalam bentuk yang sepenuhnya berfungsi.
Dengan demikian, jelas bahwa semua makhluk hidup merupakan hasil suatu “perancangan” yang lebih tinggi.
Sosok yang kadang disebut “Perancang Agung” atau yang dikaitkan dengan “perancangan yang lebih tinggi” itu tidak lain adalah Allah, yang menciptakan seluruh makhluk:
62. Alllah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.63. Milik-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang yang rugi.64. Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyambah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?”Al-Qur'an — Surah Az-Zumar (39:62–64)Sumber : QuranEnc.com — Indonesian Translation - Sabiq Company — v1.1.3
Dalam bukunya Darwin’s Black Box, ahli biokimia terkenal Michael Behe menegaskan betapa jelasnya kesimpulan ini:
“Sistem-sistem itu dirancang bukan oleh hukum alam, bukan pula oleh kebetulan atau keniscayaan, melainkan melalui suatu perencanaan. Sang Perancang mengetahui seperti apa sistem-sistem itu setelah selesai, lalu menciptakannya. Kehidupan di bumi, pada tingkatnya yang paling mendasar dan dalam komponen-komponennya yang paling penting, merupakan hasil kegiatan yang cerdas. Kesimpulan tentang adanya desain cerdas muncul secara alami dari data itu sendiri… Menyimpulkan bahwa sistem-sistem biokimia dirancang oleh pelaku yang cerdas adalah proses biasa yang tidak memerlukan prinsip baru dalam logika maupun ilmu pengetahuan. Kesimpulan itu semata-mata muncul dari pekerjaan besar yang telah dilakukan biokimia selama empat puluh tahun terakhir, serta dari pertimbangan tentang cara kita sehari-hari menyimpulkan adanya perancangan.” Michael J. Behe, Darwin’s Black Box, New York: Free Press, 1996, hlm. 196.
Michael Behe juga menjelaskan bagaimana penemuan-penemuan terbaru tentang sel hidup disambut di kalangan ateis:
“ Selama empat dasawarsa terakhir, biokimia modern telah mengungkap rahasia sel. Kemajuan ini tidak diraih dengan mudah. Puluhan ribu orang harus mencurahkan tahun-tahun terbaik dalam hidup mereka pada pekerjaan laboratorium yang melelahkan… Hasil seluruh upaya untuk mempelajari sel—mempelajari kehidupan pada tingkat molekul—adalah seruan lantang, jelas, dan tajam: “perancangan”! Hasilnya begitu tegas dan bermakna sehingga layak digolongkan sebagai pencapaian terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Kemenangan ilmu pengetahuan ini seharusnya mengundang puluhan ribu orang untuk berseru, “Eureka!”
Namun, tidak ada botol yang dibuka untuk merayakannya dan tidak terdengar tepuk tangan. Sebaliknya, keheningan yang ganjil dan canggung menyelimuti kerumitan sel yang luar biasa. Ketika topik ini dibahas di depan umum, kaki mulai bergerak gelisah dan napas terasa semakin berat. Secara pribadi, orang sedikit lebih santai; banyak yang secara terang-terangan mengakui hal yang sudah jelas, tetapi kemudian menundukkan pandangan, menggelengkan kepala, dan berhenti sampai di situ. Mengapa komunitas ilmiah tidak menyambut penemuan ini dengan antusias? Mengapa pengamatan tentang adanya perancangan diperlakukan dengan kehati-hatian intelektual yang berlebihan? Karena menerima desain cerdas berarti menerima keberadaan Allah.” Michael J. Behe, Darwin’s Black Box, New York: Free Press, 1996, hlm. 231–232.
Singkatnya, ketika menelaah sistem menakjubkan yang membentuk alam semesta, kita melihat bahwa keberadaan dan cara kerjanya bertumpu pada ukuran-ukuran yang sangat tepat serta keteraturan yang begitu rumit sehingga tidak dapat dijelaskan hanya dengan kebetulan. Keteraturan dan keseimbangan yang begitu teliti ini tidak mungkin terbentuk sendiri atau muncul dari kebetulan belaka setelah suatu ledakan besar. Hal ini hanya dapat dijelaskan dengan mengakui adanya penciptaan yang melampaui alam. George Greenstein, profesor astronomi Amerika, mengakui dalam bukunya The Symbiotic Universe, “Ketika meninjau berbagai bukti, segera terlintas dalam pikiran kita bahwa suatu bentuk pengaturan—atau lebih tepatnya Pengaturan adikodrati—pasti terlibat.” Hugh Ross, The Fingerprint of God, edisi ke-2, Orange, California: Promise Publishing Co., 1991, hlm. 114–115.
Rancangan dan keselarasan alam semesta yang tiada banding ini dengan pasti membuktikan keberadaan Sang Pencipta yang memiliki ilmu, kekuasaan, dan hikmah tanpa batas. Sang Pencipta menciptakan materi dari ketiadaan serta senantiasa mengatur dan menguasainya. Sang Pencipta itu adalah Allah, Tuhan langit, bumi, dan segala yang ada di antara keduanya:
77. Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata!78. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?"79. Katakanlah (Muhammad), "Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,80. yaitu (Allah) yang menjadikan api untuk kamu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu."81. Dan bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, mampu menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur itu)? Benar, dan Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui.82. Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.83. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.Al-Qur'an — Surah Yaseen (36:77–83)Sumber : QuranEnc.com — Indonesian Translation - Sabiq Company — v1.1.3
Gagasan tentang kebetulan
Menghadapi bukti penciptaan yang jelas, para ateis mengandalkan satu konsep saja: “kebetulan”. Dengan meyakini bahwa kebetulan semata dapat menghasilkan rancangan yang sempurna, mereka melampaui batas akal dan ilmu pengetahuan. Mereka bahkan tampak terjebak dalam suatu sikap dogmatis yang memuja kebetulan:
“Kebetulan menjadi semacam kuasa penyelenggara yang, di balik kedok ateisme, tidak disebut namanya tetapi diam-diam dipuja.” Pierre-Paul Grassé, mantan presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis, Evolution of Living Organisms, hlm. 107.
Namun, kekeliruan klaim mereka mudah dipahami melalui pengamatan sederhana serta penemuan dan kemajuan ilmiah terbaru. Terbentuknya satu protein yang sangat kecil pun sama sekali tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Profesor Ali Demirsoy, salah seorang pembela kuat teori evolusi di Turki, mengakui:
“ Terbentuknya sitokrom c secara acak, suatu protein yang penting bagi kelangsungan hidup, sama mustahilnya dengan seekor monyet yang mengetik buku sejarah umat manusia tanpa kesalahan dengan mesin tik.” Ali Demirsoy, Kalıtım ve Evrim (Pewarisan Sifat dan Evolusi), Ankara: Meteksan Yayınları, 1984, hlm. 64.
Sementara itu, Fred Hoyle, matematikawan dan astronom Inggris yang terkenal, menyatakan:
“Kemungkinan bahwa bentuk kehidupan yang lebih tinggi muncul dengan cara ini sebanding dengan kemungkinan bahwa tornado yang menyapu tempat penampungan besi tua dapat merakit sebuah Boeing 747 dari bahan-bahan yang ada di sana.” “Hoyle and Evolution”, Nature, jil. 294, 12 November 1981, hlm. 105.
Kebetulan, yang bahkan tidak dapat menjelaskan kemunculan satu protein kecil, tentu juga tidak dapat menjelaskan kerumitan organ makhluk hidup yang menakjubkan, kecanggihan mekanisme mata dan otak, keteraturan luar biasa yang mengatur alam semesta, maupun keberadaan jutaan makhluk yang beragam. Setiap makhluk itu sendiri merupakan contoh perancangan yang mengagumkan…
Sebagaimana dikemukakan Hoyle, kegigihan untuk menisbatkan kekuasaan mutlak dan kebijaksanaan tak terbatas kepada kebetulan bersumber dari alasan-alasan di luar ilmu pengetahuan:
“ Sesungguhnya, teori seperti ini—bahwa kehidupan disusun oleh suatu kecerdasan—begitu jelas sehingga kita bertanya-tanya mengapa teori ini tidak diterima secara luas sebagai sesuatu yang sudah nyata dengan sendirinya. Alasannya bersifat psikologis, bukan ilmiah.” Fred Hoyle dan Chandra Wickramasinghe, Evolution from Space, New York: Simon & Schuster, 1984, hlm. 130.
Lalu, bagaimana dengan waktu…
Dalih lain yang kerap digunakan para ateis adalah waktu. Mereka berlindung di balik pernyataan samar seperti “dalam jangka waktu yang lama, segala sesuatu menjadi mungkin” atau “selama bermiliar-miliar tahun…”. Dengan demikian, mereka berusaha menyesatkan orang agar mengira bahwa waktu memiliki daya ajaib yang dapat mengeluarkan teori mereka dari setiap kebuntuan. Salah seorang di antara mereka, misalnya, menyatakan, “Beri saya waktu dan air, maka saya akan menciptakan kehidupan…” Ketika mengajukan pernyataan yang sama sekali tidak logis ini, ia tahu bahwa tidak seorang pun akan berada di sana jutaan tahun kemudian untuk memeriksa keberhasilan eksperimennya. Ia sama sekali tidak menjelaskan kemunculan kehidupan melalui mekanisme acak. Ia hanya mencoba menghindari persoalan dengan membawanya ke jalan buntu, sambil menjadikan waktu sebagai faktor ajaib yang akan membuat segala sesuatu mungkin.
Cukup dengan menelaah klaim ini dari beberapa sudut, kita dapat melihat gertakan yang hendak ditanamkannya dalam pikiran:
- Pertama, kerumitan di alam semesta melampaui perubahan yang dapat dihasilkan waktu. Bahkan setelah bermiliar-miliar kali miliar tahun, kemustahilan terbentuknya makhluk hidup secara acak tetap tidak berubah. Contoh sederhana berupa protein sudah cukup untuk menunjukkannya. Klaim evolusionis tentang asal kehidupan yang didukung kalangan ateis berbunyi sebagai berikut: “Di lingkungan bumi purba, sejumlah asam amino berkumpul membentuk sebuah protein. Dengan cara yang sama, beberapa protein lain terbentuk, lalu protein-protein itu berkumpul membentuk sel hidup pertama…” Padahal, telah dibuktikan bahwa peluang terbentuknya satu protein berukuran sedang yang terdiri atas 500 asam amino adalah 1/(10 950). Dengan kata lain, peluang terbentuknya satu protein berukuran sedang adalah satu banding satu miliar kali satu miliar kali satu miliar kali satu miliar kali satu miliar kali satu miliar… kali satu miliar kali satu miliar.
Peluang ini sedemikian kecil sehingga tetap tidak berarti, berapa pun waktu yang berlalu. Misalnya, anggaplah reaksi berlangsung selama seratus miliar tahun—usia alam semesta diperkirakan hanya 13 miliar tahun—di seratus miliar planet, dengan laju satu reaksi per detik. Anggaplah satu tahun terdiri atas 32 juta detik. Dengan perhitungan sederhana, jumlah seluruh reaksi yang berlangsung kira-kira adalah 100 miliar × 100 miliar × 32 juta = 32 × 104 × 109 × 10 × 9 = 32 × 1022 , yang akan kita besarkan menjadi 1024.
Apa pengaruh angka 1024 ini terhadap peluang terbentuknya protein? Praktis tidak ada pengaruhnya. Peluangnya hanya meningkat menjadi (1/10926). Singkatnya: bahkan dengan waktu 100 miliar tahun dan 100 miliar planet, peluang terbentuknya satu protein kecil tetap = 0 .
William Stokes, seorang ahli geologi Amerika, mengakui hal ini dalam bukunya Essentials of Earth History. Ia menulis bahwa peluang tersebut begitu kecil “sehingga protein itu tidak mungkin terbentuk selama bermiliar-miliar tahun di bermiliar-miliar planet, yang masing-masing diselimuti larutan pekat berisi asam amino yang diperlukan”.
Perlu dicatat bahwa yang dibahas baru satu protein, sedangkan tubuh manusia mengandung jutaan protein. Selain itu, tidak ada mekanisme coba-coba di bumi yang terus menguji ulang untuk menghasilkan protein.
- Kedua, berbeda dari klaim evolusionis, waktu justru menyebabkan keruntuhan dan hilangnya informasi dalam suatu susunan, bukan keteraturan. Mobil yang dibiarkan terbengkalai tidak akan berubah menjadi model yang lebih canggih seiring waktu. Sebaliknya, bodinya akan berkarat, catnya terkelupas, kacanya pecah, dan tak lama kemudian mobil itu menjadi tumpukan besi tua. Proses yang sama dan tak terelakkan berlangsung lebih cepat pada molekul organik dan makhluk hidup. Inilah hukum sederhana dalam termodinamika, yakni hukum entropi, yang menyatakan bahwa “setiap sistem yang dibiarkan tanpa campur tangan dalam kondisi alami akan, seiring waktu, menuju ketidakteraturan, kekacauan, dan akhirnya penguraian”.
- Hukum-hukum yang mengatur alam semesta bersifat tetap dan tertentu. Hukum-hukum itu tidak berubah seiring waktu. Anak katak akan tetap menjadi katak, dan anak kadal akan tetap menjadi kadal. Sebab, informasi genetik yang diwariskan adalah informasi khas kadal, dan sebab-sebab alami tidak akan pernah menambahkan informasi baru.
- Selain itu, waktu berulang kali menjadi bukti penciptaan. Paul Davies, ahli fisika matematika dan profesor di Universitas Adelaide, Australia, menghitung kondisi yang harus ada pada saat Big Bang dan memperoleh hasil yang sungguh menakjubkan. Menurut Davies, jika laju pemuaian berbeda lebih dari 10−18 detik (seperkuintiliun detik)alam semesta tidak mungkin terbentuk:
“Jika pada saat penciptaan, ketika laju pemuaian ditetapkan, laju tersebut berbeda dari nilainya sekarang lebih dari 10−18, perbedaan itu sudah cukup untuk merusak seluruh keseimbangan yang begitu teliti ini. Ketepatan luar biasa dalam ledakan alam semesta memungkinkan munculnya gaya gravitasinya. Dengan demikian, Big Bang merupakan ledakan dengan besaran yang tertata secara menakjubkan.” Paul Davies, Superforce: The Search for a Grand Unified Theory of Nature, 1984, hlm. 184.
Penutup
Semua yang telah kita lihat memperlihatkan perencanaan sempurna yang tampak ke mana pun kita mengarahkan pandangan. Siapa pun yang menilai tanda-tanda yang jelas dan tak terbantahkan ini dengan akal dan nurani akan melihat bukti-bukti terang tentang keberadaan Sang Pencipta. Tidak ada tempat
bagi kebetulan di alam semesta. Allah-lah Pencipta sistem yang sempurna ini, dan Dia-lah yang memiliki kekuasaan
dan ilmu tanpa batas. Dalam kehidupan di dunia ini, kita berkewajiban mengenal Sang Pencipta, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, dan beribadah kepada-Nya sebagaimana yang Dia perintahkan:
1. Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta,[172] dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.[172]. Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau meminta kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti As’aluka billāh artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.Al-Qur'an — Surah النساء (4:1)Sumber : QuranEnc.com — Indonesian Translation - Sabiq Company — v1.1.3