Perjalanan Menuju Keyakinan

Episode 14 – Allah Gaib: Apakah Keberadaan-Nya Tidak Pasti?

Apakah iman kepada yang gaib berarti dugaan? Episode ini menjelaskan keyakinan akan keberadaan Allah melalui fitrah, akal, dan ayat-ayat Al-Qur’an.

Assalamu’alaikum.

Pendahuluan: pemahaman keliru tentang yang gaib

Salah satu pemahaman keliru dan berbahaya adalah bahwa iman kepada yang gaib berarti sesuatu yang tidak pasti. Sangat mungkin benar, tetapi tidak dapat disebut seratus persen. Mereka berkata bahwa tidak ada orang yang dapat memastikan keyakinannya benar dan pihak lain salah karena pada akhirnya persoalannya gaib.

Ada yang menerapkannya bahkan pada persoalan terbesar, keberadaan Allah. Mereka berkata bahwa iman berarti mempercayai sesuatu tanpa semua bukti yang tegas dan pasti. Iman memerlukan “lompatan iman” kepada sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara mutlak, lompatan berani ke ruang kosong.

Ungkapan seperti ini menjadikan iman kepada Allah dan perkara gaib secara umum sebagai intuisi serta dugaan, bukan kepastian. Kemungkinannya besar, tetapi kurang dari seratus persen. Apakah iman kepada Allah benar-benar demikian dalam sistem Islam?

Iman kepada Allah: keyakinan tanpa keraguan

Tentu tidak. Iman kepada Allah adalah iman pada sesuatu yang dibuktikan secara tegas dan pasti, tanpa keraguan atau kebimbangan. Sifat gaib sama sekali tidak berarti tidak dapat dipastikan. Gaib tidak sama dengan kabur atau samar, dan tidak berarti iman kepada Allah hanyalah sikap emosional dan kepasrahan belaka. Iman adalah sikap yang bersandar pada bukti, penalaran, fitrah, dan akal.

Iman kepada Allah ditunjukkan akal dan fitrah jika tidak dihalangi penyakit hati atau hawa nafsu. Anehnya, persoalan yang merupakan dasar Islam paling awal ini belum jelas bagi sebagian orang yang tampil melawan ateisme.

Jika iman kepada Tuhan pada sebagian penganut agama lain tercampur gambaran yang menyimpang tentang Allah serta sifat-Nya, sehingga mereka memerlukan lompatan ke ruang kosong dan kepasrahan tanpa dasar akal, kita tidak memerlukannya dalam Islam, alhamdulillah.

Episode ini ditujukan kepada Muslim dan peragu yang mungkin mengira kita mengajak kepada iman berdasarkan intuisi, emosi, dan kepasrahan. Kita justru mengajak kepada iman fitri, rasional, dan terbukti. Kepasrahan yang kita serukan juga bukan mengenai keberadaan Allah, melainkan sejumlah rincian Islam yang dibangun di atas iman fitri, rasional, dan terbukti.

Bukti Al-Qur’an tentang kejelasan keberadaan Allah

Ayat Al-Hujurat: iman tanpa keraguan

Al-Qur’an yang kita serukan mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” [Al-Hujurat: 15] Maksudnya, iman mencakup pembenaran yang tegas tanpa keraguan, bukan dugaan kuat, iman untuk berjaga-jaga, atau iman sembarangan ketika menganggap bukti keberadaan Allah tidak pasti.

Allah adalah kebenaran

Sistem Islam menegaskan bahwa keberadaan Allah adalah kenyataan terbesar. Bahkan Allah sendiri adalah Yang Mahabenar. “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak, dan apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil.” [Al-Hajj: 62]

Karena keberadaan Allah begitu jelas, Al-Qur’an tidak menjadikannya pusat pembuktian dan pembahasan. Al-Qur’an membuktikan hal yang melampaui sekadar keberadaan, seperti tauhid serta sifat Allah. Adapun keberadaan-Nya sendiri sudah merupakan persoalan yang pasti.

Ayat Ibrahim: adakah keraguan terhadap Allah?

“Rasul-rasul mereka berkata, ‘Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?’” [Ibrahim: 10] Ayat ini memuat bukti fitrah dan bukti rasional. Adakah keraguan terhadap Allah berarti terhadap keberadaan atau keesaan-Nya. Keduanya fitri dan tertanam dalam jiwa tanpa keraguan. Bukti rasionalnya adalah bahwa Dia Pencipta langit serta bumi. Semua yang ada di alam menunjukkan Sang Pencipta kepada orang yang sehat akal dan hatinya.

Dialog Musa dan Firaun

Dalam perdebatan Musa dengan Firaun, “Firaun bertanya, ‘Siapa Tuhan seluruh alam itu?’” [Asy-Syu‘ara’: 23] Musa menjawab, “Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu mempercayai-Nya.” [Asy-Syu‘ara’: 24] Artinya, jika melihat makhluk ini, Tuhan seluruh alam terlalu dikenal untuk disangkal dan terlalu nyata untuk diragukan. Jika kalian memiliki kepastian tentang sesuatu, kepastian tentang Tuhan ini lebih utama daripada semua kepastian. Jika mengatakan tidak yakin akan apa pun, kalian berdusta, karena setiap manusia pasti meyakini hal mendasar yang niscaya.

Kemudian Firaun berkata, “Sungguh, Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.” [Asy-Syu‘ara’: 27] Musa menjawab, “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu mengerti.” [Asy-Syu‘ara’: 28] Artinya, jika menyangkal Allah, kalian lebih pantas disebut gila karena kehilangan akal yang bermanfaat. Pada dasarnya, akal merupakan pengetahuan niscaya, seperti prinsip sebab-akibat, yang menunjukkan Sang Pencipta. Jika memiliki keyakinan, kalian mengenal Allah; jika memiliki akal, kalian mengenal Allah.

Ayat Al-Jatsiyah: keyakinan dan akal

Dengan makna yang sama, renungkan awal Surah Al-Jatsiyah: “Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin.” [Al-Jatsiyah: 3] “Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran di bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk kaum yang meyakini.” [Al-Jatsiyah: 4] “Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dengan air hujan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang mengerti.” [Al-Jatsiyah: 5] “Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayat-Nya?” [Al-Jatsiyah: 6]

Inilah gagasan yang sama dengan dialog Musa dan Firaun. “Meyakini”: bagi siapa yang memiliki keyakinan, yang paling utama adalah keyakinan kepada Allah dan tanda-Nya di alam. “Mengerti”: orang yang berakal tidak akan menyangkal Tuhannya atau bermasalah dengan iman kepada yang gaib. Maka, “Dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayat-Nya?” [Al-Jatsiyah: 6] Orang yang tidak beriman kepada Allah serta tanda alam-Nya yang begitu jelas lebih patut tidak mempercayai apa pun, karena Allah dan tanda-Nya adalah hal paling nyata yang dapat diimani manusia.

“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” [Adz-Dzariyat: 21] “Benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang mendengarkan.” [Yunus: 67]

Orang yang tidak beriman kepada Allah seolah-olah tidak pernah melihat, mendengar, merasakan, atau menggunakan akal.

Penutup: hujah yang kuat

Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Alasan yang kuat hanya pada Allah. Maka kalau Dia menghendaki, niscaya kamu semua mendapat petunjuk.’” [Al-An‘am: 149] Allah memiliki hujah yang menunjukkan kebenaran firman-Nya dan mencapai tujuannya: mengalahkan lawan serta membatalkan argumennya. Semua ini untuk membuktikan sifat Allah, keesaan-Nya, serta rincian agama. Lalu, bagaimana dengan keberadaan Allah sendiri? Bukankah itulah keyakinan pertama dan paling utama?

Pada episode-episode berikutnya, insyaallah kita akan semakin menjelaskan mengapa keberadaan Allah merupakan kebenaran akal yang paling mendasar.

Assalamu’alaikum warahmatullah.


Sumber: Situs resmi Dr. Eyad Qunaibi.